Aceh: Suara Dari Hujung Tambak
- Regular price
- RM 150.00
- Sale price
- RM 150.00
- Regular price
-
RM 0.00
Share
Aceh: Suara Dari Hujung Tambak
Author: Siti Zainon Ismail
Publisher: Dewan Bahasa dan Pustaka
ISBN: 9789834600587
Year: 2019
Pages: 381pp
Weight: 1200g
Price: RM150
Hingga tahun 500 SM, nama Aceh belum muncul. Catatan Dinasti Lian pernah menyebut "Poli" di utara Sumatera yang mempunyai 136 kampung. Diceritakan juga bahawa penduduknya menanam padi dua kali setahun, menghasilkan dan memakai kain kapas, sesekali berkain sutera. Rajanya menggunakan gajah sebagal kenderaan. Ketika itu penduduknya beragama Buddha.
Pada zaman Srivijaya di Sumatera, sumber Arab dan China ada menyebut Lau-Wu-Li atau Lamuri. Menurut Osman Raliby, dalam bahasa Aceh sekarang nama tersebut mungkin yang dimaksudkan ialah Lambarih, iaitu sebuah desa kecil yang tidak jauh dari Aceh, kemudian muncul nama Pase atau Samudera Pasai, ketika ajaran Islam tiba pada sekitar tahun 845-950. Menurut catatan Marco Polo, daerah kecil ini berkembang pesat sebagai pusat Islam yang terkemuka pada sekitar tahun 1292, dimulai di sepanjang muara Sungai Pase.
Aceh sejak dulu, sebagaimana negeri-negeri Melayu Nusantara, kaya dengan rempah-ratus seperti cengkih, pala, kayu manis, dan sebagainya. Kekayaan ini diketahui oleh manusia Barat, khususnya Belanda, Portugis, Sepanyol dan Inggeris. Kedudukan Aceh yang terbuka sebagai pintu masuk kapal dari Barat ke Timur memungkinkan tanah ini terus diintai.